Sabtu, 10 September 2011

Untukmu Ayah dan Ibuku


Aku terhanyak dan terdiam saat nenekku berucap ke aku  “anak kuwi iso wae lali karo wong tuwone, tapi wong tuo ora bakal lali karo anakk’e”, yang artinya “anak itu kadang bisa lupa sama orang tuanya, tapi orang tua gak bakal lupa dengan anakknya”.   Kata-kata nenekku itu sangat dalam menyentuh kalbuku hingga bagian yang paling terdalam sanubari ini. Bagaimana tidak, saat ini memang aku sedang jauh dari orang tuaku baik secara fisik aku berada di Semarang maupun secara emosi. Tapi ketika nenek bilang seperti itu aku kembali tersadar bahwa sesungguhnya orang tua itu selalu perduli dan dan perhatian kepada anaknya. Justru aku sebagai anak yang sering melupakan bahwa perjuangan orang tua kita membesarkan dari lahir hingga sekarang sungguh sangat berat, ibu melahirkan kita dengan penuh perjuangan yang panjang. Sembilan bulan ibu mengandung dengan membawa beban di perutnya tapi apakah ibu pernah mengeluh kalau kita yang waktu itu masih di rahim sungguh berat. Selain itu ibu juga harus memasak, mencuci, dan melakukan pekerjaan rumah tangga lain untuk sebagai tanggung jawab seorang ibu rumah tangga kepada keluarga. Sedangkan ayah, dengan susah payah berusaha menafkahi dan mendidik kita dengan senang hati agar kita menjadi besar dan dewasa secara fisik dan emosi. Mungkin kita sering dan banyak mendengar cerita anak durhaka kepada orang tua seperti kisah Malin Kundang atau kisah seorang anak yang susah meninggal pada jaman Nabi Muhammad gara-gara mengusir ibunya dari rumah yang pada akhirnya harus menyesal di akhir hidupnya, memang penyesalan selalu diakhir tapi dan selalu percuma bila penyesalan adalah tiba disaat ajal menjemput.

Aku pernah nulis posting terdahulu soal ibu, dengan judul “Cara kita berterimakasih kepada Ibu” (download disini aslinya) dimana kita selalu menyampaikan terima kasih kita kepada ibu dengan cara kita, untuk selengkapnya silahkan bisa dibaca langsung postingan itu. Sedangkan soal Ayah aku pernah mendapatkan sebuah presentasi dari dosen yang sangat menyentuh hati bahkan aku hampir menangis tapi aku tahan meskipun dalam hati aku menangis tersedu (bisa didonlot disini presentasinya).

Aku pernah belajar psikologi perkembangan bahwa manusia itu semakin tua akan kembali seperti anak kecil, yang bila digambarkan adalah seperti gambar gunung, dimana dulu waktu manusia masih bayi dia sangat rewel dan kelak semakin tua manusia juga akan semakin rewel seperti kadang kita menemukan atau menjumpai kakek atau nenek kita susah banget dibilangin untuk makan atau untuk istirahat dan itu tampak sekali seperti anak kecil kalau disuruh makan susah banget, maunya bergerak kesana-kemari dan itu sangat rewel banget. Jadi jangan heran kalau kelak orang tua kita akan rewel seperti kita pada waktu kecil, karena itu sudah hukum alam yang berlaku dan hukum alam tidak mungkin untuk dilanggar. Kita sebagai anak harus mengerti hukum alam itu, dan niscaya kelak saat kita menjadi orang tua dari anak-anak kita dan menjadi kakek nenek dari cucu-cucu kita, kitapun pasti akan seperti orang tua kita sekarang yang semakin tua dan semakin rewel hingga kadang orang tua kita itu tidak mau kalah dengan omongan kita. Jadi hadapilah orang tua kita dengan bijak, jangan sampai kita menyakiti hati orang tua kita agar kita tidak dicap durhaka. Kalaupun kadang kita harus bertentangan pendapat atau keputusan dengan orang tua kita, setidaknya kita bisa menghadapi itu semua dengan bijak, jelaskan dengan bijak dan sangat meyakinkan bahwa ini adalah pilihan kita dan telah kita pertimbangkan dengan matang, dan tidak bertentangan dengan semua norma yang berlaku di masyarakat jadi kita tidak menyakiti hati orang tua kita.

Di akhir tulisan ini aku ingin berpesan kepada kita semua dan khususnya kepada diriku sendiri agar kita selalu mendo’akan orang tua kita, kapanpun dan dimanapun, setidaknya setelah sehabis sholat bagi yang muslim meskipun kadang kita malas untuk berdoa panjang lebar setidaknya kita bsia mendo’akan orang tua kita dengan do’a untuk orang tua yang simpel itu, yaitu yang kurang lebih artinya adalah “Ya Allah ya Tuhan ku ampunilah dosa kedua orang tuaku, sayangi dan jagalah orangtuaku sebagaimana mereka menyayangi dan menjagaku ketika aku kecil dulu”. Do’a itu sangat simpel dan pendek untuk kita ucapkan seteleh selesai sholat bila kita malas berdoa panjang lebar.

Dan Akhirnya aku ingin berdoa kepadamu Tuhan di akhir tulisan ini,
Ya Allah ya Tuhan kami, ampunilah dosa kedua orang tuaku,  sayangi dan jagalah orangtuaku sebagaimana mereka menyayangi dan menjagaku ketika aku kecil dulu, jangan biarkan kami mengecewakan orang tau kami, jadikanlah kami lebih bijak dalam menghadapi orang tua kami, agar kami tidak mengecewakan mereka, ijinkanlah kami membahagiakan, membanggakan mereka, berilah mereka berdua umur yang panjang agar bisa melihat anak-anak kami tumbuh dan berkembang menjadi cucu-cucu mereka yang sholeh dan sholeha, mudahkanlah segala urusan mereka berdua, limpahkanlah rahmatMU kepada mereka, jadikanlah mereka berdua ahli surgaMU, sehingga kami dapat berkumpul kembali dengan mereka disana, Ya Allah ya Tuhan kami, hanya kepadaMUlah kami meminta, dan hanya karena izin dariMUlah aku hidup diantara mereka berdua yang telah rela berkorban demi kami, amin”.
                                                                                               
Tulisanini aku dedikasikan untuk kedua orang tuaku yang telah membesarkan aku dan mendidik aku hingga aku dewasa, maafkan aku yang belum dapat membahagiakan dan berbakti sepenuh hati kepadamu ayah, ibu. Do’akan aku dan adik-adikku agar kami dapat membahagiakan kalian dan berbakti kepada kalian berdua, semoga Allah selalu mengingatkan aku untuk selalu mendo’akan kalian berdua dalam setiap sholat dan nafasku, agar kami menjadi anak-anak yang sholeh dan sholeha yang membuat kalian bangga wahai bunda, wahai ayahanda. Amin ya robbal alamin.


TERIMA KASIH IBU, TERIMA KASIH AYAH

NB : Oh ya bunda dan ayahanda, meskipun bunda dan ayahanda tidak membaca tulisan ini,  do’akan juga aku agar skripsiku lancar dan tahun ini bisa lulus dan kerja mapan, amin. 
Posting Komentar