Minggu, 10 Juni 2012

“Kalian Harus Menemukan Apa yang kalian Cintai”, kata Jobs

BisnisKecil.com. Berikut ini adalah teks yang disiapkan untuk pidato wisuda yang disampaikan oleh Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Pixar Animation Studios, pada tanggal 12 Juni 2005.
Saya merasa terhormat berada di sini pada hari wisuda kalian dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus dari perguruan tinggi. Sejujurnya, saat ini adalah saat terdekat di mana saya merasakan suasana wisuda. Hari ini, saya ingin menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Itu saja. Tidah lebih. Hanya tiga cerita.
Cerita pertama adalah tentang menghubungkan titik-titik dalam hidup kalian. Saya putus kuliah dari Reed College setalah 6 bulan pertama, tetapi saya tetap ada di sana selama 18 bulan untuk mengikuti beberapa kelas, sebelum akhirnya benar-benar berhenti. Jadi mengapa saya memutuskan untuk berhenti kuliah?
Ini semua dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah seorang mahasiswi muda yang belum menikah, dan dia memutuskan untuk memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi. Dia berkeyakinan kuat bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, jadi ibu mempersiapkan saya untuk diadopsi oleh seorang pengacara dan istrinya setelah saya lahir. Namun kekita saya dilahirkan, mereka memutuskan pada menit terakhir bahwa mereka sebennarnya menginginkan seorang bayi perempuan. Maka orang tua saya, yang saat itu ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon di tengah malam yang menanyakan: “Tak terduga, kami mendapatkan seorang bayi laki-laki; apakah kalian berminat mengadopsinya?” Mereka berkata:”Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah saya tidak pernah lulus dari sekolah menengah. Dia menolak untuk menandatangani berkas terakhir surat adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian ketika orang tua saya berjanji bahwa saya akan disekolahkan sampai perguruan tinggi.
Dan 17 tahun kemudian memang saya memulai kuliah di perguruan tinggi. Tetapi bodohnya, saya memilih perguruan tinggi yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya, yang adalah dari golongan kelas buruh, habis untuk membayar biaya kuliah saya. Setelah enam bulan, saya tidak melihat adanya manfaat dari berkuliah. Saya tidak tahu apa yang ingin saya lakukan di hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya untuk menemukannya. Selama masa kuliah, saya telah menghabiskan seluruh simpanan orang tua saya. Jadi saya memutuskan untuk keluar dan mempercayai bahwa semuanya akan berlangsung baik. Pada awalnya, keputusan itu tampak menakutkan, tetapi setelah melihat ke belakang, itu adalah salah satu keputusan terbaik yang saya pernah buat. Setelah saya memutuskan untuk keluar, saya berhenti mengambil kelas-kelas wajib yang tidak saya perlukan, dan mulai mengambil kelas-kelas yang menarik bagi saya.
Tidak semuanya berlangsung baik. Saya tidak mempunyai kamar asrama sehingga saya tidur di lantai kamar teman-teman, mengembalikan botol-botol soda untuk mendapatkan 5¢ deposit yang saya gunakan untuk membeli makanan, dan berjalan sejauh 7 mil melintasi kota setiap minggu malam untuk mendapatkan hidangan enak di kuil Hare Krishna. Pada saat itu, saya menyukai gaya hidup itu. Dan banyak hal berharga yang telah pelajari saya dapatkan karena rasa keingintahuan dan intuisi saya. Berikut ini adalah satu contoh: Reed College pada waktu itu menawarkan instruksi kaligrafi yang barangkali terbaik di seluruh negeri. Setiap poster, label di laci di seluruh kampus, ditulis tangan dengan kaligrafi yang indah. Karena saya sudah keluar kuliah dan tidak harus mengambil kelas-kelas tertentu, saya memutuskan untuk mengambil kelas kaligrafi untuk belajar bagaimana melakukannya. Saya belajar seni tipografi serif dan san serif, tentang memvariasikan jumlah spasi antara kombinasi-kombinasi huruf yang berbeda, tentang apa yang membuat tipografi menarik. Semua itu sangat indah, bersejarah, dan keartistikannya tidak dapat diukur dengan ilmu pengetahuan, dan menurut saya itu mengagumkan.
Tidak ada satupun unsur dari pelajaran ini yang dapat diterapkan dalam hidup saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh pertama, apa yang saya telah pelajari saya ingat kembali. Dan kami merancang Mac berdasarkan pengetahuan itu. Komputer itu adalah yang pertama menggunakan seni tipografi yang indah. Seandainya saya tidak pernah mengambil kelas kaligrafi itu semasa kuliah, Mac tidak akan pernah memiliki bermacam-macam jenis huruf dan spasi yang proporsional. Dan karena Windows hanya menjiplak Mac, kemungkinan besar tidak ada komputer yang memiliki fitur seperti itu. Seandainya saya tidak pernah putus kuliah, saya tidak akan pernah mengambil kelas kaligrafi, dan komputer-komputer pribadi tidak akan memiliki tipografi indah seperti yang mereka miliki sekarang. Tentu saja sewaktu saya masih kuliah, tidak mungkin saya bisa menghubungkan titik-titik kehidupan itu. Tetapi sepuluh tahun kemudian, semuanya menjadi jelas.
Sekali lagi, kalian tidak bisa menghubungkan titik-titik kehidupan ketika melihat ke masa depan, kalian hanya bisa melakukannya ketika melihat masa lampau. Jadi kalian harus meyakini bahwa titik-titik itu akan terangkai di masa mendatang. Kalian harus mempunyai suatu keyakinan – di intuisi, takdir, hidup, karma, atau apapun. Pendekatan ini tidak pernah mengecewakan saya, dan telah membuat perbedaan yang berarti di kehidupan saya.
Cerita kedua saya adalah tentang cinta dan kehilangan.
Saya termasuk beruntung – saya menemukan apa yang saya ingin lakukan di masa muda saya. Saya dan Woz memulai Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20. Kami bekerja keras, dan dalam 10 tahun, Apple telah berkembang dari hanya kami berdua di garasi menjadi sebuah perusahaan bernilai $2 milyar dengan lebih dari 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami – Macintosh – setahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan lalu saya dipecat. Bagaimana kita dapat dipecat dari perusahaan yang kita dirikan? Jadi, ketika Apple berkembang kami merekrut seseorang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya, dan di tahun pertama, semuanya berjalan lancar. Tetapi kemudian visi-visi masa depan kami mulai berbeda dan kami saling bertentangan. Dewan Direksi berpihak pada dia. Jadi di usia 30, saya keluar dari perusahaan itu, dan itu sangat terbuka. Aya yang telah menjadi fokus kehidupan dewasa saya telah hilang, dan saya merasa hancur.
Selama beberapa bulan, saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa bahwa saya telah mengecewakan generasi pengusaha sebelumnya – karena saya telah menjatuhkan tongkat yang diserahkan kepada saya. Saya bertemu David Packard dan Bob Noyce, mencoba untuk meminta maaf karena telah mengacaukan semuanya. Saya adalah seorang tokoh publik yang gagal, dan bahkan saya berpikir untuk melarikan diri. Namun sesuatu perlahan-lahan mulai tampak nyata – saya masih menyukai apa yang saya lakukan. Apa yang telah terjadi di Apple tidak mengubah kenyataan itu sedikit pun. Saya telah ditolak, tetapi saya tetap mencintainya. Jadi saya memutuskan untuk memulai kembali.
Pada saat itu saya tidak sadar, tetapi ternyata dipecat dari Apple adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula lagi, kurang yakin akan segalanya. Hal ini mengantarkan saya untuk memasuki periode yang paling kreatif dalam hidup saya.
Dalam lima tahun berikutnya, saya memulai sebuah perusahaan bernama NeXT, perusahaan lain bernama Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama di dunia, Toy Story, dan saat ini adalah studio animasi tersukses di dunia. Lalu peristiwa yang luar biasa terjadi, Apple membeli NeXT, dan saya kembali bekerja di Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung kehidupan Apple. Dan, Laurene dan saya mempunyai keluarga yang bahagia.
Saya yakin semua ini tidak akan terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Hal ini memang serasa menelan obat pahit, tetapi saya membutuhkannya. Kadangkala kehidupan serasa terlalu berat, tetapi jangan kehilangan keyakinan kalian. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya mencintai apa yang saya lakukan. Kalian harus menemukan apa yang kalian cintai dalam pekerjaan, seperti sama juga halnya dalam hidup percintaan kalian. Pekerjaan kalian akan memenuhi sebagian besar dari kehidupan kalian, dan satu-satunya cara untuk benar-benar puas adalah dengan melakukan sesuatu yang kalian yakini adalah pekerjaan yang besar dan hebat. Dan satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan seperti itu adalah dengan mencintai pekerjaan kalian. Jika kalian belum menemukannya, tetaplah mencari. Jangan menetap. Seperti halnya dengan keinginan hati kalian, kalian akan tahu begitu kalian menemukannya. Dan, seperti semua hubungan yang memuaskan, hubungan kalian dengan pasangan akan menjadi lebih baik dari tahun ke tahun. Jadi tetaplah mencari hingga kalian menemukannya. Jangan menetap.
Cerita ketiga saya adalah tentang kematian.
Ketika saya berumur 17 tahun, saya membaca sebuah ungkapan yang kira-kira berbunyi sebagai berikut: “Hiduplah sebagaimana hari ini adalah hari terakhir kalian, karena pada suatu hari nanti, itulah yang akan terjadi.” Ungkapan itu membuat kesan tersendiri dalam hati saya, dan sejak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya telah melihat cermin di pagi hari dan bertanya pada diri sendiri: “Jika hari ini adalah hari terakhir saya, apakah saya ingin melakukan apa yang saya akan lakukan hari ini?” Dan bila saya menjawab “Tidak” selama beberapa hari berturut-turut, saya tahu bahwa saya harus mengubah sesuatu.
Mengingat bahwa suatu saat saya akan mati adalah hal paling penting yang pernah saya temukan yang dapat membantu saya untuk membuat keputusan-keputusan terbesar dalam hidup saya. Karena hampir semuanya – harapan-harapan eksternal, kebanggan, takut akan malu dan gagal – semua hal itu menjadi tidak penting dibanding menghadapi kematian, sehingga meninggalkan hal-hal dan perasaan yang terpenting. Mengingat bahwa kalian akan menghadapi kematian merupakan cara terbaik untuk menghindari pemikiran bahwa kalian akan kehilangan sesuatu. Kalian sudah terlanjut telanjang. Dan tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati kalian.
Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7.30 pagi dan hasilnya dengan jelas menunjukkan bahwa saya memiliki tumor di pankreas saya. Saya bahkan tidak tahu pankreas itu apa. Para dokter mengatakan bahwa mereka hampir pasti kanker semacam ini tidak dapat disembuhkan, dan harapan hidup saya hanya tiga sampai enam bulan. Dokter saya menganjurkan saya untuk pulang ke rumah dan membereskan segala urusan, yang sebenarnya ini isyarat untuk mempersiapkan kematian. Itu berarti, cobalah untuk mengatakan kepada anak-anak kalian semua yang kalian akan katakan 10 tahun mendatang dalam hanya beberapa bulan saja. Ini berarti, pastikan bahwa segalanya akan diatur sebaik-baiknya supaya akan meringankan beban keluarga kalian. Ini berarti ucapan selamat tinggal.
Saya hidup dengan diagnosis itu sepanjang hari. Malam itu saya dibiopsi, di mana mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan saya, melalui perut dan usus-usus, menusukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius tetapi istri saya yang saat itu berada di sana, memberitahu saya bahwa ketika mereka melihat sel-sel itu melalui mikroskop, para dokter mulai menangis karena ternyata kanker pankreas itu termasuk satu jenis kanker yang sangat jarang dan dapat disembuhkan dengan operasi. Saya menjalani operasi itu dan hari ini saya baik-baik saja.
Kejadian itu adalah masa terdekat saya dengan menghadapi kematian, dan saya harap tetap menjadi yang terdekat untuk beberapa dekade ke depan. Setelah melalui pengalaman itu, sekarang saya bisa mengatakan kepada kalian dengan lebih yakin bila kematian adalah konsep yang berguna tetapi murni intelektual:
Tidak ada seorang pun yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga tidak ingin mencapainya dengan cara mati. Namun, kematian tidak dapat kita elakkan. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya. Dan memang harus demikianlah, karena Kematian mungkin adalah ciptaan terbaik dari Kehidupan. Kematian adalah agen perubahan Kehidupan, membersihkan yang lama untuk membuat jalan bagi yang baru. Sekarang ini kalian adalah yang baru, tetapi suatu hari tidak berapa lama dari sekarang, kalian akan berubah secara bertahap menjadi yang lama/tua dan segera disingkirkan. Maaf bila terdengar terlalu dramatis, tapi itulah kenyataannya.

Waktu kalian terbatas, jadi jangan habiskan hidup kalian dengan mencoba menjadi orang lain. Jangan terperangkap dalam dogma – yaitu hidup dari hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan suara pendapat orang lain menenggelamkan suara batin kalian sendiri. Dan yang paling penting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi kalian. Entah bagaimana, mereka sudah mengetahui mau menjadi apa kalian nantinya. Segala sesuatu yang lain adalah sampingan.
Ketika saya masih muda, ada sebuah publikasi luar biasa yang bernama The Whole Earth Catalog (Katalog Seluruh Dunia), yang merupakan salah satu buku panduan generasi saya. Penciptanya bernama Steward Brand, yang tinggal tak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia menghidupkan publikasi itu dengan sentuhan puitisnya. Semua ini terjadi di akhir tahun 1960-an, sebelum beredarnya komputer dan desktop publishing, jadi semua diterbitkan dengan mesin-mesin ketik, gunting, dan kamera polaroid. Di jaman itu, terbitan itu seperti layaknya Google dalam bentuk cetakan, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya idealis, dan dipenuhi dengan alat bantu yang rapi dan gagasan-gagasan besar.
Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi The Whole Earth Catalog, dan ketika terbitan ini mencapai titik ajalnya, mereka menerbitkan edisi terakhir. Saat itu adalah pertengahan tahun 1970-an, ketika saya masih seusia kalian. Di sampul belakang edisi terakhir mereka, ada sebuah foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang membuat kalian ingin lalui jika kalian suka berpetualang. Di bawahnya, ada kata-kata: “Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh.” Itu adalah pesan perpisahan mereka. Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh. Dan saya selalu mengharapkan hal itu pada diri saya. Dan sekarang, sebagai lulusan baru, itulah yang saya harapkan bagi kalian.
Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh. [sumber tulisan]
Posting Komentar