Sabtu, 16 Juni 2012

[resensi buku] Saga no Gabai Bāchan (Nenek Hebat dari Saga)

Baru tadi siang setelah pulang dari sekolahan aku mampir ke toko buku Toga Mas di daerah Bangkong, rencananya mau cari buku yang judulnya "The Magic of Speaking" tapi kok gak ada, memang ada di daftar pencarian tapi karena susah dicari dan harganya yang tinggi akhirnya aku cari-cari buku yang lainnya, dan salah satu buku dari 5 buku yang aku beli adalah sebuah novel kecil terjemahan dari Jepang berjudul "Saga no Gabai Bāchan (Nenek Hebat dari Saga)". Cerita lengkap tentang isi novel ini belum aku ketahui karena baru baca sampe halaman awal doang, tapi ini aku nemu sebuah resensi dari situs sebelah seperti di bawah ini.
Gambar Cover Bukunya
Judul Buku : Saga no Gabai Bāchan (Nenek Hebat dari Saga)
Penulis :  Yoshichi Shimada
Penerjemah : Indah S. Pratidina
Penerbit  : Kansha Books (divisi dari Mahda Books)
Cetakan IV, Januari 2012
Tebal 264 halaman
ISBN 978-602-97196-2-8

Kisah dimulai ketika Akihiro yang kehilangan ayahnya setelah Hiroshima dibom, dikirim ke Desa Saga oleh sang ibu untuk tinggal bersama neneknya.
Nenek Osano yang berusia 58 tahun ternyata sangat miskin. Beliau hanya bekerja sebagai penyapu halaman sekolah. Akihiro kecil pun harus menyesuaikan dengan lingkungan barunya. Walaupun demikian, sang nenek tak pernah terlihat putus asa atau bersedih. Beliau adalah sosok yang optimis. Seperti kata-katanya berikut ini, ”Ada dua jalan untuk orang miskin. Miskin muram dan miskin ceria. Kita ini miskin yang ceria.” (hlm. 63) 
Nenek Osano selalu punya ide-ide lucu dan kreatif dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Misalnya saja, memasang galah di sungai di depan rumahnya supaya sayur-mayur yang dibuang dari pasar akan tersangkut di galah itu. Sungai itu pun disebutnya sebagai “supermarket pribadi”. 
“Lobak yang berujung dua sekalipun, kalau dipotong-potong dan direbus, akan sama saja dengan yang lain. Timun yang bengkok sekalipun, apabila diiris-iris dan dibumbui garam, tetap saja timun.” (hlm. 43—44) 
Akihiro pun sering melihat neneknya menggantungkan magnet di pinggangnya tiap kali beliau ke luar rumah. Ketika Akihiro bertanya mengenai magnet itu, beginilah jawaban Nenek Osano, “Sungguh sayang kalau kita sekadar berjalan. Padahal, kalau kita berjalan sambil menarik magnet, lihat, begini menguntungkannya. Kalau kita jual, sampah logam lumayan tinggi harganya.” (hlm. 41)
Akihiro betul-betul belajar banyak dari sikap optimis dan kesederhanaan hidup neneknya. 
Di buku ini pun dikisahkan tentang hubungan Akihiro dengan guru serta teman-temannya di Saga. Seperti kisah tentang gurunya yang selalu mengajak Akihiro bertukar bekal dengan alasan bahwa ia sakit perut. Ternyata, bekal gurunya itu berisi makanan lezat. Setelah sekian tahun sang guru berbuat demikian, Akihiro baru menyadari bahwa gurunya itu hanya berusaha berbuat baik padanya.
“Kebaikan sejati adalah kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang yang menerima kebaikan.” (hlm. 92) 
Oh ya, Akihiro Tokunaga yang dikisahkan dalam buku ini adalah sang penulis sendiri. Kisah di dalam buku ini adalah kisah masa kecilnya. Ia menulis buku karena ingin semua orang tahu tentang cara hidup neneknya. Pada tahun 2003, ia mempromosikan buku ini pada acara Tetsuko no Heya yang dipandu oleh Tetsuko Kuroyanagi (penulis buku Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela). Keesokan harinya, pesanan buku Saga no Gabai Bāchan miliknya langsung meningkat di toko-toko buku setempat. Dalam waktu kurang dari satu tahun, buku ini pun telah terjual sebanyak 100.000 eksemplar di negeri asalnya. 
Terjemahan di buku ini sangatlah rapi dan enak dibaca, walaupun masih ada beberapa istilah asing yang tidak dicetak miring. Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi kecil di tiap babnya, bagus sekali. Saya selalu suka buku-buku cerita yang berilustrasi. Kemudian, di bagian belakang buku terdapat bab yang memuat “Tips Hidup yang Menyenangkan dari Nenek Osano”. It’s wonderful. 
Saga no Gabai Bāchan meninggalkan satu kesan yang mendalam bagi saya: bahagia itu sederhana [sumber tulisan dan gambar]
Kalau pengen tau lebih lengkap ceritanya sesendu dan sekonyol apa silahkan beli aja bukunya di toko buku terdekat, hehehhehhe.
Posting Komentar