Sabtu, 02 Mei 2015

Pengenku si pendidikan itu gini-gitu.

Selamat Hari Pendidikan Nasional; Setiap tahun pada tanggal 2 Mei kita sebagai orang Indonesia selalu memperingati hari pendidikan nasional. Saat tulisan ini aku tulis, aku sendiri lupa kenapa diperingati pada tanggal 2 Mei, kenapa tidak tanggal 31 Mei saja seperti tanggal kelahiranku. Tapi seingatku tanggal 2 Mei itu kalau gak salah adalah hari lahirnya bapak pendidikan Indonesia. Tapi tulisan ini tidak akan membahas soal hari pendidikan yang sudah sering dibahas di tulisan-tulisan lain, aku pengen nulis karena sudah lama sekali aku tidak nulis untuk blog ini, dan aku merindukan saat-saat aku menulis blog, ngarang bebas sesuka hatiku, sesuka pikiranku tanpa aku harus perduli apakah orang lain akan membaca tulisan ini tau tidak, tapi aku berharap ada yang baca tulisan ini meskipun cuma seorang saja (mungkin aku).

Jadi malam ini, tanggal 2 Mei aku pengen nulis pendapatku tentang pendidikan di Indonesia yang seharusnya. Ini terinspirasi dari tulisan yang tadi siang waktu di sekolahan aku baca, sebuah tulisan di kaskus tentang uniknya pendidikan di Jepang. Jadi menurut tulisan yang aku baca tadi, sekolah di Jepang tidak ada yang namanya sekolah favorit, semua sekolah sama dan setara, baik dari SD sampai dengan SMA (entah untuk universitasnya). Terus menurut tulisan yang aku baca tadi, yang berwenang untuk menentukan seorang anak harus sekolah dimana adalah dinas pendidikan bukan sekolahnya. Jadi pada waktu penerimaan peserta didik baru, semua orang tua mendaftarkan sekolah anaknya di balaikota (dinas pendidikan mungkin maksudnya), kemudian pihak dinas yang akan menentukan dimana anak tersebut bersekolah dengan mempertimbangkan beberapa aspek seperti jauh/dekatnya jarak rumah ke sekolah. Pernah gak lihat di pilem-pilem Jepang, dicontohkan di tulisan itu adalah di pilem Doraemaon, bahwa tidak ada yang namanya pelajar berangkat sekolah diantar oleh orang tua dengan menggunakan mobil/kendaraannya, itu karena jarak sekolah menjadi pertimbangan bagi dinas pendidikan untuk menentukan seorang anak sekolah dimana. Terus seorang anak sekolah tidak boleh membawa gadget ke sekolahan, satu-satunya pintu komunikasi anak dan orang tua selama di sekolah adalah sekolah itu sendiri. Padahal kita semua tau kalau Jepang itu negara yang teknologinya maju banget, bahkan mungkin kebanyakan gadget/barang elektronik kita adalah made in Japan. Tapi kenapa seorang siswa tidak diperbolehkan membawa gadget ke sekolahannya ? mungkin kalian bisa memberikan pemikiran sendiri soal hal ini.

Tapi yang paling aku kagumi adalah dinas pendidikan menyama-ratakan semua sekolah, tidak ada sekolah favorit bagi siapapun, karena sekolah semuanya sama. Beda banget kan sama di Indonesia, hampir setiap kota memiliki sekolah favorit, jadi pada waktu pendaftaran siswa baru bisa dipastikan yang namanya sekolah favorit adalah sekolah tujuan semua calon siswa dan orang tua untuk dimasukin, sedangkan sekolah yang tidak favorit tentu saja mendapatkan sedikit sekali pendaftar pada waktu pendaftaran siswa baru. Pemandangan kontras ini pasti ada di setiap kota di negara kita yang tercinta ini. Kalau dibilang bagus si ada bagusnya kalo ada sekolah favorit dan tidak favorit, bagusnya buat sekolah favorit siswanya biasanya yang memang memiliki kemampuan akademik/non-akademik yang lebih dari pada sekolah non-favorit. Tapi seandainya semua sekolah sama, tidak ada favorit/non-favorit, tidak ada RSBI/non-RSBI, tidak ada kurikulum KTSP/kurikulum 2013, tidak ada sekolah percontohan/sekolah bukan percontohan, menurutku mungkin ini akan membuat pendidikan lebih baik. Karena tidak lagi ada sekolah yang hanya mendapatkan murid hanya satu kelas pada saat penerimaan peserta didik padahal kelasnya ada sepuluh, sedangkan sekolah favorit sampai menolak-nolak murid yang mendaftar gara-gara kelasnya dikit, seandainya semua sekolah sama.

Terus yang sampai sekarang masih jadi pertanyaanku adalah, kenapa kita sering banget gonta-ganti kurikulum dalam periode waktu yang singkat, sepertinya pendidikan di indonesia ini hanya sebuah percobaan belaka, kalau percobaan berhasil maka kurikulum itu akan dipakai, tapi kalau gagal ya ganti lagi. Padahal kenyataanya tidak seperti itu, tapi lebih kepada politisasi pendidikan, setiap ganti kekuasaan maka siap-siap saja kurikulum kita berubah lagi. Kalau sudah gitu, yang menjadi korban adalah murid-murid yang bersekolah, ditambah lagi dengan bingungnya guru-guru karena setiap ganti kekuasaan pastinya akan ada kebijakan yang berubah juga, mulai dari kebijakan yang berhubungan dengan pendidikan ataupun kebijakan yang berkaitan dengan pekerjaan sebagai pendidik (ini yang aku rasakan sebagai seorang guru). Aku sendiri meskipun bingung aku hanya bisa mengikuti perkembangan kebijakan yang ada sambil tetap menulis blog ini (itupun kalau ada yang ditulis) #akumahapaatuh.

Aku dulu sekolah di pesantren, disitu aku mendapatkan pelajaran bahwa tidak seharusnya sekolah menolak/memberikan tes masuk kepada calon siswanya, karena kita semua memiliki kesempatan dan hak yang sama dalam memperoleh pendidikan. Bahkan Alm. Kyai Hamam Ja’far berwasiat kepada pengelolanya agar jangan sampai menolak calon siswa/santri baru, dan jangan pernah mengadakan tes masuk/tese penerimaan siswa baru. Tes yang digunakan adalah hanya tes untuk membagi kelas, kelas dibagi bukan untuk menentukan siapa yang pintar ataupun kurang pintar, tapi tes dilakukan untuk menentukan bahwa mereka yang memiliki kepintaran lebih diharapkan bisa membantu mereka yang kurang, artinya dalam satu kelas pasti ada yang pintar dan kurang pintar tanpa harus mendiskriminasikan mereka. Ideologi ini sampai sekarang masih aku pegang teguh, meskipun sampai sekarang aku tidak memiliki kewenangan untuk melakukan hal itu di instansi aku berada. Meskipun aku tidak pernah lulus SMP dan SMA (karena aku sekolah MTs dan MA), tapi aku mendapatkan pendidikan yang luar biasa dari pesantren plus sekolah dimana aku dulu didik (bangga sama almamater).

Tapi meskipun aku menulis beginian kalo aku tidak punya kuasa mau apalagi #akumahapaatuh, apalagi kalo yang punya kuasa tidak juga mau sadar dan lebih mementingkan proyekisasi pendidikan. Rasanya kalau udah kayak gini aku pengen mendirikan sekolah sendiri, sekolah yang tidak pake seragam, sekolah yang tidak mengajarkan muridnya untuk jadi sarjana doang, tapi sekolah yang mendidik muridnya untuk jadi diri mereka sendiri, agar memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya, baru manfaat bagi negaranya. Aku ingin punya sekolah yang tidak mengharuskan berangkat pagi jam 7 masuk sekolah, aku ingin punya sekolah yang isinya guru-guru muda yang punya pemikiran dan ideologi untuk mendidik bukan untuk mencari duit sertifikasi doang. Pokoknya pengenku soal pendidikan di Indonesia banyak banget, tapi ini hanya pengenku, entah pengenya orang lain.


Posting Komentar