Minggu, 08 Januari 2017

Gowes (Tak Segampang Yang Kukira)

                Kegiatan bersepeda atau yang orang kenal dengan istilah “gowes” sekarang lagi jamannya, hampir disemua pelosok jalan pasti ada aja orang yang sedang bersepeda, apalagi kalau hari-hari libur seperti weekend khususnya hari minggu, kalau di Pekalongan ditambah hari jum’at juga pasti banyak orang yang bersepeda entah kemana. Sebenernya kegiatan bersepeda ini mulai booming lagi pada awal-awal tahun 2000 ini setelah sekian lama fakum dan tidak terlalu tenar seperti sekarang. Setiap kali lihat orang bersepeda menyusuri jalan, baik itu yang landai, turunan bahkan tanjakanpun, kayaknya asik ya dan gampang banget ngayuh sepeda begitu khususnya saat jalan menanjak. Mereka dengan santainya menanjaki jalan dengan kayuhan sepeda dengan asik dan sepertinya tanpa beban, tapi ternyata tidak seperti yang aku bayangkan.


                Yah, setelah sekian lama, akhirnya akupun sekarang memiliki sepeda sendiri, dulu waktu kecil, waktu jaman sekolah dasar aku pernah punya sepeda juga dan bahkan aku masih inget banget dulu sampai kita mbikin trek sendiri di kebun-kebun bahkan berkeliling ke desa tetangga atau kebun orang lain yang jauh letaknya hanya untuk menikmati asiknya bersepeda. Sebenernya sudah lama pengen punya sepeda lagi setelah sekian lama tidak pernah bersepeda dan mungkin skill bersepedaku jadi ilang. Nah, sekarang keturutan juga punya sepeda MTB, yah meskipun bukan yang MTB harga mahal/bagus tapi setidaknya ini sudah MTB dan standar internasional. Kapan-kapan boleh lah aku tulis review soal sepeda MTBku yang baru sehari kemaren aku beli di Pekalongan.

                Jadi setelah membeli sepeda itu di Pekalongan, tepatnya di toko sepeda Prima yang ada di jalan Progo (depan SD PIUS), memang sih rencananya tidak minta diantarkan ke rumah, tapi langsung mau ditest drive gowes dari Pekalongan ke rumah yang kira-kira berjarak 20km-an. Dari toko sepeda adekku yang ngebet penge test drive duluan, ok aku persilahkan dia ngayuh sepeda baru itu dan tampaknya asik juga bersepeda keliling kota diantara ramainya deru kendaraan bermotor apalagi dikondisi jalanan macet karena sedang ada pawai “Panjang Jimat” dalam rangka raingkaian acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadakan oleh jama’ah Khanzus Sholawatnya Habib Lutfi dan hari ini (Minggu, 8 Januari 2017) katanya mau didatengi oleh pak Presiden Jokowi.

                Memang yang namanya naik sepeda itu gak secepet naik kendaraan bermotor, jadi aku yang naik motor terpaksa harus berjalan pelan untuk mengimbangi ayuhan sepeda adekku itu. Setelah sampai di perempatan Bendo, kita mampir beli minum di minimarket dulu, terus aku minta untuk gantian mencoba mengayuh sepeda, apakah kuat sampai ke rumah. Ternyata setelah dicoba untuk mengayuh pertama kali dari Pekalongan, baru sampe di Karangdadap saja bokongku sudah mati rasa, saat adekku minta gantian aku turun dari sepeda rasanya kayak gak bisa berdiri, kaki gemetaran semua, tangan megang stang motor aja gemeteran. Aku pikir mungkin ini efek karena pertama kalinya aku gowes sejauh itu, iya aku bilang jauh karena memang sebelumnya belum pernah aku gowes dari Pekalongan sampai Karangdadap, dan jalan yang harus ditempuh memang sedikit menanjak, apalagi itu pertama kalinya pake MTB dan harus main dengan gigi gear sepeda yang jumlahnya 8+3.

               
Setelah mencoba test drive di hari pertama, aku jadi ngambil kesimpulan, ternyata bersepeda itu gak segampang yang orang lihat, memang butuh trik dan keahlian tersendiri, apalagi menaiki sepeda MTB yang mengharuskan bermain dengan gigi gear sepeda saat ditanjakan dan di jalan landai. Tapi tentu saja itu gak membuatku kapok untuk berhenti bersepeda, kata temenku yang sudah lama bersepeda, memang harus butuh penyesuaian dan latihan, kalau bisa rutin latihan tiap pagi dan sore biar tau gimana sepeda itu saat di jalanan.

                Hari kedua (hari ini), aku coba bangun pagi meskipun alhasil telah seperti biasa karena mungkin masih terbawa suasana libur panjang semester pertama kemaren. Tapi akhirnya akupun bangun dan pagi ini mencoba untuk menyesuaikan diri dengan sepedaku, aku coba ngayuh di jalanan sepi yang masih dekat dengan rumah dan ada tanjakan yang tidak terlalu tinggi juga. Aku coba mainkan gigi gear sepeda, aku coba perpaduan 2:7, kadang 3:8 atau yang lainya untuk mengetahui gigi sepeda yang mana yang cocok untuk jalan seperti tanjakan. Karena ternyata bersepeda menanjak itu tidak semudah yang selama ini aku kira dan aku lihat saat orang-orang pada bersepeda. Dan meskipun tidak berkeringat banyak, tapi kaki ini rasanya membutuhkan tenaga yang besar juga untuk mengayuh sepeda saat menanjak apalagi saat kondisi gigi gear di posisi 3:8 atau gigi tinggi.


                Jujur aku belum berani untuk turun ke jalan raya yang ramai, karena masih belum menguasai sepedaku dan tenaga juga belum terbiasa, nanti lah kalau sudah paham soal shifting dan sepedaku pasti aku bakal turun gunung. Tujuan pertama si ke Bebekan hari minggu besok, sekalian cuci mata dan bersepeda ngetes kemampuan tenagaku, apakah aku kuat saat pulangnya, kalau berangkangkatnya si jalanan menurun jadi bisa santai, tapi entah pas pulang, meskipun tidak terlalu menanjak tapi aku penasaran. Tapi yang lebih membuat aku penasaran adalah apakah aku kuat kalau berangkat kerja ke Pekalongan aku bersepeda dan begitu juga saat pulangnya. Nah kita tunggu saja nanti saat waktunya sudah tiba dan tenaga kayuhanku sudah mulai kuat, hehehehe.
Posting Komentar